| Perekonomian nasional seharusnya memanfaatkan momentum keterpurukan ekonomi AS dan Eropa dengan beberapa langkah antisipasi. Konsolidasi ekonomi masih terus bergulir di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Eropa menyusul krisis berganda yang dialami sejak tahun 2008. Hampir tidak ada para analis ekonomi yang memberanikan diri sejauhmana prospek ekonomi Eropa dan AS pada masa akan datang. Problema perekonomian masing-masing negara begitu parahnya terutama menyangkut pertumbuhan ekonomi yang berdaya rendah dalam menciptakan implikasi yang positif terhadap perekonomian dunia. Dengan perkataan lain, pertumbuhan ekonomi mengalami stagnasi yang cukup memprihatinkan. Sebab, kualitas pertumbuhan ekonomi berada pada posisi yang tidak memadai untuk menciptakan lapangan kerja dalam jumlah yang banyak. Akibatnya, jumlah pengangguran semakin membumbung tinggi tanpa adanya bayangan berupa instrumen solusi yang kongkrit dan berekspektasi positif. Mengapa kualitas pertumbuhan ekonomi Eropa dan AS tidak begitu bereaksi positif ? Setidaknya ada 4 faktor penting yang menjadi penyebab mengapa pertumbuhan ekonomi kurang reaktif terhadap terciptanya kesempatan kerja. Pertama, sektor fiskal berupa pengeluaran pemerintah yang tidak mampu mengimbangi kebutuhan pembiayaan belanja modal. Ketidakmampuan tersebut bersumber dari kewajiban pemerintah atas jumlah utang negara yang cukup besar dan terakumulasi besar terlebih ketika konsetelasi perekonomian dunia semakin tidak seimbang. Akibatnya, kepercayaan pasar terhadap perekonomian AS menjadi turun drastis. Bahkan peringkat utang AS sudah diturunkan. Kedua, pengeluaran belanja infrastruktur sektor usaha komersial menurun drastis sebagai imbasan kinerja sektor perbankan yang negatif. Sebab, bank-bank di Eropa dan AS mengalami gangguan likuiditas yang melemahkan kemampuan pembiayaan dari bank. Kualitas kredit perbankan pun berada pada kondisi sangat buruk. Kewajiban para debitur mengalami masalah komplikasi negatif akibat keuntungan perusahaan yang menurun. Bank-bank tidak mampu menggelontorkan dana investasi yang meningkat. Ketiga, pengeluaran masyarakat menurun drastis yang berakibat melemahnya daya beli masyarakat. Penurunan daya beli merupakan pengaruh dari tingginya tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat tekanan krisis yang dialami sejumlah korporasi. Sebagian besar masyarakat kehilangan pekerjaan akibat perusahaan-perusahaan di AS sulit untuk bertahan. Nyaris pupus harapan agar perusahaan melakukan ekspansi usaha. Perusahaan-perusahaan lebih terfokus pada kondisi untuk dapat bertahan paling tidak mempertahankan loss minimum. Keempat, sektor korporasi dan perusahaan-perusahaan megaindustri kurang mendapat dukungan dari sektor perbankan sehingga volume produksi bagi perdagangan luar negeri tidak mampu mengimbangi pasar. Permintaan pasar luar negeri tidak dapat dipenuhi sepenuhnya kecuali komoditas andalan yang memiliki stok berlebih. Tekanan terhadap ekspor juga datang dari para pesaing potensial dari negara-negara Asia Timur terutama untuk barang-barang konsumsi sehari-hari (consumer goods). Ekspor AS tidak lagi menjadi primadona yang dapat mengkatrol produk-produk ekspor Eropa.
Efek negatif dari empat faktor determinan diatas, berpotensi kuat melemahkan kemampuan sektor-sektor usaha produktif dalam menciptakan kesempatan kerja. Elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap kesempatan kerja menjadi lebih rendah dibandingkan dengan era 2001-2006. Tampaknya, pertumbuhan ekonomi AS akan bergerak ke arah menurun, dan tidak akan berada pada performa terbaiknya dalam waktu yang singkat. Komplikasi ekonomi Laporan bulanan departemen tenaga kerja AS melaporkan baru-baru ini, pertumbuhan ekonomi AS gagal menciptakan lapangan kerja baru. Artinya pertumbuhan ekonomi tidak bereaksi postif guna merangsang penciptaan lapangan kerja baru. Sektor-sektor usaha produktif masih mengalami tekanan hebat sehingga daya serap faktor produksi terutama tenaga kerja berada pada situasi yang stagnant. Pada bulan Agustus yang lalu, pertumbuhan pengangguran AS mencapai 9,1% jauh lebih tinggi dibandingkan dengan era tahun 2001 hingga 2006 yang hanya sekitar 3,3%. Angka 9,1% bersumber dari data non-farm payroll AS yang lemah sehingga daya serap lapangan kerja juga lemah. Biasanya non-farm payroll menciptakan ekspektasi 200 ribu kesempatan kerja, namun terakhir ekspektasi yang hanya 78.000 saja tidak terpenuhi. Padahal, tingkat pengguran sempat turun pada level 8,9%. Sementara itu, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal II/2011 hanya tumbuh 1,9%, sedangkan pada kuartal sebelumnya sebesar 0,4%. Hampir semua indikator utama atau leading indicators perekonomian AS tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan perekonomian dalam jangka pendek. Apabila PDB AS akan kembali turun bahkan negatif maka malapetaka ekonomi negara “adi daya” itu akan membuahkan keadaan sosial ekonomi yang sangat getir. Inilah spektrum komplikasi kronis yang dialami perekonomian AS sejak kondisi “great depression” pada era tahun 1940-an yang mengontaminasi perekonomian dunia. Adakah keadaan kelesuan ekonomi dunia akan kembali terulang ? Bisa dirasakan sebenarnya bayang-bayang resesi ekonomi dunia semakin terlihat jelas. Sinyal yang diberikan pasar harga saham yang jatuh dan melemahnya dolar AS terhadap kurs asing menggambarkan ada suatu hal yang tidak benar dalam pengelolaan ekonomi AS. Akan tetapi, tidak mustahil tubir resesi ekonomi masih dapat dihindari dengan kerjasama yang setara antara negara-negara yang berpengaruh perekonomiannya. Persoalan kuncinya adalah bagaimana sebenarnya kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah AS dan negara-negara Eropa sudah berjalan efektif. Jika tidak, maka perekonomian yang sudah panas bahkan terkesan akan “overheating” akan membawa perekonomian AS dan Eropa mendekati tubir jurang resesi ekonomi dunia. Sikap antisipasi Perekonomian AS dan sebagian besar negara industri maju Eropa yang mengalami kontraksi (tekanan) beruntun saat ini perlu disikapi dengan bijak dan penuh kehati-hatian. Perekonomian nasional seharusnya memanfaatkan momentum keterpurukan ekonomi AS dan Eropa dengan beberapa langkah antisipasi. Pertama, dapat dipastikan resesi yang dialami AS dan Eropa akan menjalar ke sumber-sumber pertumbuhan ekonomi kawasan dunia termasuk Indonesia. Sehubungan dengan hal terebut Menteri Koordinator Perekonomian perlu menyusun suatu Letter of Intent (LOI) yang berisikan langkah strategis kebijakan ekonomi dalam mengantisipasi resesi ekonomi dunia. Antara lain, memanfaatkan aliran dana masuk (capital inflow) yang cukup besar di sektor keuangan dalam negeri agar dapat menjadi penggerak sektor riil. Di samping itu, pemanfaatan dana yang mengalir dari investor luar negeri juga dimaksudkan untuk mengantisipasi terjadinya “bubble economy” yang dapat menekan perekonomian domestik. Memang, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa sudah menyusun langkah apa yang dinamakan dengan “Crisis Management Protocol” (CMP). Namun, CMP tidak jelas ukuran efektifitasnya dan cenderung mengelola pergerakan ekonomi makro belum menyentuh pada hal-hal yang berskala mikro. Kalau LOI lebih jelas langkah antisipasinya dan ukuran keberhasilan dapat diketahui perkembangannya serta mampu mengaitkannya dengan kepentingan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kedua, dengan terjadinya krisis keuangan di AS dan Eropa maka yang berdampak buruk adalah ekspor. Fokus anggaran pemerintah AS jelas akan dialokasikan untuk pembayaran utang luar negeri mereka serta biaya kebijakan luar negerinya. Dengan demikian akan terjadi pengurangan impor dari negara-negara mitra termasuk Indonesia. Sejalan dengan hal itu, pemerintah perlu melakukan restrukturisasi ekspornya dengan mengurangi fokusnya ke AS dan Eropa. Meskipun ekspor masih terus berlangsung tetapi jelas nilai ekspor akan berkurang yang berakibat pendapatan negara berkurang. Oleh karena itu perlu melakukan suatu bentuk skema transaksi ekspor yang efektif dari kerugian yang tidak terduga. Selanjutnya resiko perdagangan luar negeri harusnya dapat diminimalkan dengan kepastian adanya jaminan dari para importir potensial. Bagi dunia usaha, krisis keuangan AS dan Eropa dapat dijadikan pemicu untuk menyusun strategi pasar yang lebih moderat mengarah pada penciptaan mitra-mitra usaha dari kawasan benua lain. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikemukakan perekonomian nasional tidak boleh abai terhadap pergerakan cepat konsetelasi perekonomian AS dan Eropa. Hendaknya pemerintah tidak melihat krisis ekonomi AS dan Eropa dalam jangka pendek saja melaikan harus dilihat “second impact”-nya bagi perekonomian domestik. Resesi ekonomi hanya sebuah gejala yang dinamis yang sudah barang tentu hanya sebuah negara yang fondasi perekonomiannya yang kokoh mampu mengantispasi segala terjangan badai yang menghampirinya. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar