Senin, 14 November 2011

TinjauanTinjauanTinjauan
Kategori:Lainnya
O l e h : Mustofa Bisri



SUATU ketika seorang laki-laki menghadap Nabi Muhammad SAW dan gemetaran –oleh wibawa beliau– saat berbicara. Nabi SAW pun ber-kata menenangkan: Tenang saja! Aku bukan raja.

Aku hanyalah anak perempuan Qureisy yang biasa makan ikan asin. (Dalam hadisnya, menggunakan kata qadiid yang maknanya dendeng, makanan sederhana di Arab. Saya terjemahkan dengan ikan asin yang merupakan makanan sederhana di Indonesia).

Ketika Rasulullah SAW datang di Makkah, setelah sekian lama hijrah, sahabat Abu Bakar Siddiq r.a. sowan bersama ayahandanya, Utsman yang lebih terkenal dengan julukan Abu Quhaafah.

Melihat sahabat karib sekaligus mertuanya bersama ayahandanya itu, Rasulullah SAW pun bersabda: ’’Wahai Abu Bakar, mengapa Sampeyan merepotkan orang tua? Mengapa tidak menunggu aku yang sowan be- liau di kediamannya?

Sahabat Abdurrahman Ibn Shakr yang lebih dikenal dengan Abu Hurairah r.a. bercerita: Sualu ketika aku masuk pasar bersama Rasulullah SAW. Rasulullah ber-henti, membeli celana dalam dan berkata:
''Pilihkan yang baik lho!" (terjemahan dari aslinya: Rasulullah bersabda kepada si tukang timbang, Timbang dan murahin - bahasa Jawa: sing anget. Bolehjadi, waktu itu, beli celana pun ditimbang).

Mendengar suara Rasulullah SAW, si pe-dagang celanapun melompat mencium tangan beliau. Rasulullah menarik tangan beliau sambil bersabda: "ltu tindakanorang-orang asing terhadap raja mereka. Aku bukan raja. Aku hanyalah laki-laki biasa seperti kamu." Kemudian, beliau ambil celana yang sudah beliau beli. Aku berniat akan membawakannya, tapi beliau buru-buru bersabda: ''Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya."



Itu beberapa cuplikan yang saya terjemahkan secara bebas dari kitab NihayaayaI alArabnya Syekh Syihabuddin Ahmad Ibn Abdul Wahhab An-Nuweiry (677-733 H) jilid ke-18 hal 262-263. Saya nukilkan cuplikan-cuplikan kecil itu untuk berbagi kesan dengan Anda. Soalnya, saya sendiri, saat membacanya, mendapat gambaran betapa biasa dan rendah hatinya pemimpin agung kita Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering naik atau membonceng kendaraan paling sederhana saat itu; yaitu keledai. Rasulullah SAW suka menyambangi dan duduk bercengkerama dengan orang-orang fakir-miskin. Menurut istri terkasih belau sayyidatina Aisyah r.a. dan cucu kesayangan beliau Hasan Ibn Ali r.a., Rasulullah SAW mengerjakan pekerjaan rumah; membersihkan dan menambal sendiri pakaiannya; memerah susu kambingnya; menjahit terompahnya yang putus; menyapu dan membuangsampah;memberi makan ternak; ikut membantu sang istri mengaduk adonan roti; dan makan bersama-sama pelayan.

Sikap dan gaya hidup sederhana sebagaimana hamba biasa itu, agaknya, memang merupakan pilihan Rasulullah SAW sejak awal. Karena itu, dan tentu saja juga karena kekuatan pribadi beliau, bahkan kebesaran beliau sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara pun tidak mampu mengubah sikap dan gaya hidup sederhana beliau. Bandingkan, misalnya, dengan kawan kita
yang baru menjadi kepala desa saja sudah merasa lain; atau ikhwan kita yang baru menjadi pimpinan majlis taklim saja sudah merasa beda dengan orang lain.

Memang tidak mudah bersikap biasa; terutama bagi mereka yang terlalu ingin menjadi luar biasa alau mereka yang tidak tahan dengan keluarbiasaan.

Apalagi sering masyarakat juga ikut membantu mempersulit orang istimewa untuk bersikap biasa. Orang yang semula biasa dan sederhana; kelika nasib baik mengistimewakannya menjadi pemimpin, misalnya, atau tokoh berilmu atau berada atau berpangkat atau terkenal, biasanya masyarakal di sekelilingnya pun mengelu-elukannya sedemikian rupa sehingga yang bersang-
kutan terlena dan menjadi tidak islimewa.

Keistimewaan orang istimewa terutama terletak pada kekuatannya untuk tidak terlena dan terpengaruh keislimewaannya itu. Keistimewaan khalifah Allah terutama terletak pada kekualannya untuk tidak terlena dan terpengaruh oleh kekhalifahannya, mampu menjaga tetap menjadi hamba Allah. Keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin, antara lain, karena beliau
tidak terlena dan tepengaruh oleh keistimewannya sendiri. Kita pun kemudian menyebutnya sebagai pemimpin yang rendah hati.

Nabi Muhammad SAW adalah contoh paling baik dari seorang hamba Allah yang menjadi khalifah-Nya. Beliau sangat istimewa justru karena sikap kehambaannya sedikit pun lidak menjadi luntur oleh keistimewaannya sebagai khalifah Allah. Selawat dan salam bagimu, ya Rasulallah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar